Login

Lupa password?

Like Facebook Fanspage
Latest topics
» Event Natal - Desember 2015 dan Tahun Baru.
by nandaxr Mon Nov 23, 2015 9:26 am

» Donasi Umum
by nandaxr Tue Nov 17, 2015 8:53 am

» Jadwal Update HadeGamer
by Admin Forum Wed Jul 15, 2015 10:56 pm

» VIP Access Donasi
by Admin Forum Tue Jul 14, 2015 5:17 pm

» Character Story Informations Center || Jake Sont
by Billgom Tue Jul 07, 2015 11:12 am

» VIP Dealership [ALL VIP]
by nandaxr Sun Jun 28, 2015 1:16 am

» Donasi Family
by nandaxr Sat Jun 27, 2015 11:32 pm

» Recruitment Transport Taxi Company|| Marcello Vannouvich
by Rivaldo05 Fri Jun 26, 2015 5:29 pm

» Request Cuty || Justin Hobbes ||
by MDF Tue Jun 02, 2015 8:09 am


Los Santos Fire & Medical Department [HANDBOOK]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Los Santos Fire & Medical Department [HANDBOOK]

Post by nandaxr on Fri Mar 27, 2015 4:56 am


Los Santos Fire & Medical Department




San Andreas Medic and Fire Department
HandBook





Dalam handbook ini akan dijelaskan setiap bagian yang harus dikuasai oleh tiap – tiap anggota Los Santos EMS. Handbook ini akan dibagi dalam bagian yang terdiri dari:

1. Formasi Tim
2. Basic Life Support
3. RJP
4. Manajemen bleeding
5. Manajemen fraktur
6. Manajemen korban luka bakar
7. Transportasi pasien

1. Formasi tim
Kunci utama dalam bekerja sebagai agen kegawatdaruratan adalah tim. Oleh karena itu, kerjasama tim sangatlah diperlukan dalam melakukan pekerjaan ini. Untuk kegiatan patroli, dalam satu mobil ambulance diharuskan terdapat dua personil di dalamnya ((kecuali cuma 1 yang online)). Satu orang bertindak sebagai driver dan yang lain adalah sebagai komunikator dengan dispatch. Sedangkan, saat menangani kasus, satu orang bertindak sebagai ketua dan yang lain bertindak sebagai eksekutor. Ketua diharuskan untuk bertindak dan membuat keputusan secara cepat dan tepat, karena pekerjaan sebagai EMT sangat bergantung pada waktu.

2. Basic Life Support
Basic life support adalah pertolongan pertama yang dilakukan pada korban dengan keadaan yang mengancam nyawa sampai dilakukannya perawatan medis di rumah sakit. BLS ini dapat dilakukan baik dengan alat maupun tanpa alat. Di dalam BLS, kita akan mengenal dengan sebuah mekanisme pertolongan yang disingkat dengan DR-ABC.

Danger :
Saat anda telah sampai di tempat kejadian, pertama-tama periksalah apakah keadaan sekitar anda telah aman untuk melakukan pertolongan, apakah pasien berada di tengah jalan, apakah terdapat medan yang berbahaya di lokasi kejadian, dan aspek-aspek lainnya yang mungkin bukan hanya membahayakan pasien, namun juga membahayakan diri penolong pula. Prioritaskan keselamatan anda sendiri sebelum menyelamatkan nyawa orang lain.

Response :
Pada tahap ini, kita selidiki apakah pasien dapat merespon kita atau tidak. Jika pasien dapat merespon maka tahapan selanjutnya dapat kita abaikan dan segera dirujuk ke rumah sakit. Untuk mengecek apakah pasien dapat merespon atau tidak, kita dapat menyapa atau memanggilnya, “apakah bapak dapat mendengar saya?”. Cara lain adalah menggoyang-goyang tubuh pasien atau memberikan rasa nyeri di tubuh pasien yaitu dengan menggunakan:
©Coke
Dengan menekan bagian sternum (tengah dada), bagian bawah ibu jari, dan langit-langit mata pasien. Jika setelah kita lakukan cara diatas, pasien masih belum merespon dapat kita putuskan bahwa pasien tidak sadar.

Airway :
Setelah kita mendapatkan respon pasien negative, kita cek airway (jalan udara) pasien, kita cek apakah ada yang menghalangi udara masuk ke tubuh pasien atau tidak. Langkah pertama yaitu dengan chin-lift (jika solo), yaitu mendorong dagu pasien ke atas ataupun dengan jaw-thrust (jika tim), yang keduanya bertujuan untuk menaikkan lidah pasien agar tidak menghalangi jalan udara pasien (pada pasien tidak sadar, lidah akan turun sehingga jalur napas tertutup). Setelah itu kita cek apakah ada material-material yang menghalangi pernapasan pasien. Berdasarkan jenis penghalang (obstruksinya), teknik pembebasan airway dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Finger sweep, jika obstruksi berbentuk cair.
2. Cross finger, jika obstruksi berbentuk padat.
((caranya diskip aja, kepanjangan klo dibuat RP))

Breathing :
Setelah airway pasien positif, kita cek breathing pasien tersebut. Hal ini dapat kita lakukan dengan Look, listen, and feel (L2F). Look yaitu melihat gerakan dada pasien, listen yaitu mendengarkan suara napas pasien dan feel yaitu merasakan hembusan napas pasien. Jika pasien tidak bernapas, kita lakukan napas buatan. Napas buatan dapat kita lakukan mouth to mouth ataupun dengan instrument. Namun, jika instrument yang kita butuhkan, yaitu Bag Valve Mask, ada, maka prioritaskan menggunakan instrument tersebut.

Circulation :
Setelah Breathing pasien positif, kita cek sirkulasi pasien. Kita selidiki apakah ada denyut nadi, apakah jantung pasien berdetak. Jika kedua poin tersebut negative, maka kita asumsikan sirkulasi pasien negative. Untuk menyelidiki ini, kita cek nadi pasien di leher (arteri carotis), di pergelangan tangan (arteri radialis), atau di lengan atas (arteri brachialis). Untuk memperoleh hasil yang cepat, gunakan arteri carotis pasien. Namun jika diduga terdapat fraktur cervix, gunakan arteri lainnya. Jika circulation pasien negative, lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Setelah A, B, dan C pasien positif, segera rujuk pasien ke rumah sakit.


3. RJP
RJP/CPR adalah prosedur pertolongan pertama yang merupakan gabungan antara pijat jantung dan napas buatan dan berfungsi untuk mengatasi henti napas dan henti jantung pada pasien. Prosedur ini dapat dilakukan jika tidak ditemukan denyut jantung dan napas pasien. Prosedur untuk melakukan RJP :

1. Posisikan korban dalam keadaan berbaring.
2. Posisikan tangan anda di sternum (tengah dada) korban.
3. Tekan ke bawah dada korban ke bawah sekitar 2-3cm hingga 30 kali.
4. Berikan napas buatan sebanyak dua kali.
5. Ulangi cara diatas hingga 5 siklus (30:2).
6. Jika masih belum positif, ulangi terus.


Anda dapat berhenti melakukan RJP, jika :
1. Pasien telah sadar.
2. Bantuan medis yang lain datang.
3. Pasien dinyatakan meninggal.

AED
AED (Auto-External Defibrillator) adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menganalisa adanya keadaan jantung yang abnormal serta memberikan terapi shock untuk mengembalikan ritme jantung yang normal. Prosedur penggunaan AED ini, yaitu :
1. Posisikan pad AED di dada korban.
2. AED akan dengan otomatis menganalisa keadaan pasien, apakah pasien ‘shockable’.
3. Berikan satu kali shock pada korban (asystolic).
4. Jika tidak ada perubahan, dapat dipastikan pasien meninggal.
Asystolic = tidak ada denyut jantung.

4. Manajemen bleeding
Bleeding(pendarahan) adalah peristiwa keluarnya darah dari sistem vaskuler. Pendarahan yang tidak segera ditangani akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi pendarahan tersebut, terdapat beberapa tahap :

Tekan-Bebat
Jika terdapat pendarahan, segera tekan area pendarahan korban hingga berhenti. Gunakan ambulance dressing pad untuk menekan pendarahan lalu bebat dengan mengikatkan ambulance dressing tersebut. Jika darah masih tetap keluar, lapisi dengan ambulance dressing yang lain, hingga luka berhenti.

Elevasi
Setelah pendarah berhenti segera posisikan daerah yang terluka tersebut di atas jantung. Hal ini untuk menghindari keluarnya darah yang terus menerus.
Namun sebelumnya, jika terdapat kain/pakaian yang menghalangi, segera buang agar tidak menggangu proses penghentian
Jika penyebab pendarahan adalah material luar, misal tertancap benda lancip. Jangan sesekali untuk mengambil/menariknya, karena akan memperparah luka pasien. Segera tutup dengan ambulance dressing dan rujuk ke rumah sakit.

5. Manajemen fraktur
Fraktur adalah diskontinuitas tulang atau keadaan tulang yang tidak tersambung. Ciri-ciri dari adanya fraktur diantaranya bengkak, rasa nyeri, krepitasi (derik tulang), deformitas (perubahan bentuk), terbatasnya area gerak, dan false movement. Alat yang digunakan untuk manajemen fraktur ini adalah traction splint. Untuk memberikan pertolongan pertama pada fraktur ini, ikuti tahap-tahap berikut :

1. Fiksasi dan imobilisasi bagian tubuh korban yang diduga terdapat fraktur.
2. Buang kain/pakaian yang menutupi daerah yang terkena fraktur.
3. Letakkan traction splint di bagian bawah daerah fraktur tersebut.
4. Kaitkan ketiga sabuk agar bagian tersebut dapat terfiksasi.
5. Korban siap dirujuk.

Jika patah yang terjadi adalah patah tulang terbuka (open fracture), segera hentikan pendarahan, lalu segera fiksasi dan kembali ke tahapan di atas. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi infeksi lanjutan dari faktur tersebut serta gunakan collar breeze pada leher korban.

6. Manajemen luka bakar
Luka bakar adalah kondisi luka (trauma) karena kerusakan jaringan tubuh yang disebabkan oleh panas, listrik, bahan kimia, dll. Luka bakar harus segera ditangani agar tidak terjadi shock, yang akhirnya akan menyebabkan berhentinya kematian.

1. Segera padamkan api pada korban dan pindahkan ke tempat yang aman. Dapat menggunakan air untuk memadamkannya
2. Lakukan ABC.
3. Segera berikan cairan ringer laktat (infus) untuk mencegah terjadinya shock.
4. Tutup luka korban dengan kain bersih dan segera rujuk ke rumah sakit.
5. Berikan obat penahan rasa sakit jika perlu (aspirin, morfin (keadaan parah)).

7. Transportasi pasien
Terdapat 2 alat yang digunakan untuk transportasi pasien.

Stretcher
Stretcher merupakan alat transportasi pasien yang biasanya dijalankan oleh dua orang. Satu orang di bagian kepala dan yang lain di bagian kaki. Stretcher memiliki kaki yang dapat diturunkan dan dinaikkan sehingga dapat mempermudah transportasi pasien.

Backboard
Backboard. Backboard adalah papan panjang yang digunakan untuk mengimobilisasi pasien sehingga tidak terjadi gerakan tambahan saat pasien diangkut. Backboard biasanya digunakan untuk korban patah tulang.

________________










avatar
nandaxr
Webmaster
Webmaster

Jumlah posting : 95
Points : 137
Reputation : 2
Join date : 08.03.15
Age : 23
Lokasi : Kota Metro

http://laurentiusandhika.tumblr.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik